microsoft office 2021 full version free download
Oktober 18, 2021
Abstrak
Artikel
ini menganalisis organisasi kemahasiswaan Indonesia sebagai bagian dari
ketahanan nasional di era ancaman sistemik multidomain, yaitu
ancaman yang bekerja serentak pada ranah militer, ekonomi, sosial, politik,
informasi, energi, dan logistik. Titik tolaknya adalah perubahan karakter
konflik kontemporer, ketika tekanan strategis tidak lagi hanya menyasar sasaran
militer, tetapi juga legitimasi politik, kohesi sosial, dan persepsi publik.
Sejumlah tulisan strategis tentang konflik Iran 2026 di situs Kodim 0602/Serang
menekankan logika systemic paralysis, yaitu
pelumpuhan sistem lawan dengan menyerang jaringan penting yang membuat negara
atau organisasi dapat berfungsi, serta shaping operation,
yaitu tindakan awal untuk membentuk kondisi agar fase utama operasi
menguntungkan pihak pelaku.
Dalam
konteks Indonesia, gelombang demonstrasi mahasiswa pada Februari dan Agustus
2025 memperlihatkan bahwa organisasi kemahasiswaan tetap merupakan aktor
mobilisasi politik nasional yang signifikan. Reuters melaporkan protes “Dark Indonesia”
berlangsung di banyak kota pada Februari 2025, sedangkan pada akhir Agustus
2025 demonstrasi meluas ke 32 provinsi. Databoks Katadata yang mengutip
Kemendagri memetakan 112 aksi di 33 provinsi sejak 25 Agustus 2025.
Artikel
ini menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dengan sintesis interpretif atas
laporan media, regulasi negara, artikel akademik kampus, dan tulisan strategis
penulis. Kerangka teoritis yang digunakan memadukan teori gerakan sosial,
hegemoni dan kontra-hegemoni, nasionalisme kewargaan (civic
nationalism), yaitu nasionalisme yang bertumpu pada komitmen warga terhadap
negara, hukum, dan kepentingan bersama, demokrasi deliberatif,
yaitu demokrasi yang menekankan dialog rasional dan pertukaran alasan publik,
serta konsep bela negara sipil, yakni partisipasi warga negara
dalam menjaga bangsa melalui kesadaran hukum, disiplin sosial, dan tanggung
jawab kebangsaan, bukan semata aktivitas militer. Artikel ini berargumen bahwa
persoalan utama gerakan mahasiswa Indonesia bukan hilangnya daya kritik,
melainkan belum tuntasnya transformasi dari protest-centered
mobilization menuju resiliensi kewargaan strategis (strategic
civic resilience), yaitu daya tahan kewargaan yang membuat kelompok sosial
tetap kritis, rasional, taat hukum, dan tidak mudah dieksploitasi dalam situasi
krisis nasional.
Kata
kunci: ketahanan
nasional, gerakan mahasiswa, Pancasila, bela negara, demokrasi deliberatif,
ancaman multidomain
1.
Pendahuluan
Perang
kontemporer memperlihatkan bahwa negara dapat ditekan bukan hanya melalui
invasi atau penghancuran kekuatan tempur, tetapi melalui pelemahan sistem yang
menopang fungsi negara. Dalam tulisan “Operation Epic Fury” di situs
Kodim 0602/Serang, sasaran awal yang disorot bukan seluruh alat utama sistem
senjata lawan, melainkan radar, komando-kendali, pertahanan udara, dan
konektivitas medan tempur. Tulisan tersebut menegaskan bahwa operasi modern
berupaya mencapai systemic paralysis, yaitu pelumpuhan
menyeluruh atas sistem lawan, bukan sekadar attrition, yakni
pelemahan bertahap melalui pengurangan kekuatan dan sumber daya lawan dari
waktu ke waktu.
Implikasinya
adalah perluasan cara pandang terhadap ketahanan nasional. Bila ancaman modern
bersifat multidomain, maka ketahanan nasional tidak cukup dimaknai sebagai daya
tahan militer, melainkan juga sebagai kemampuan negara dan masyarakat menahan
guncangan politik, sosial, ekonomi, dan informasi. Dalam kerangka itu,
kelompok-kelompok strategis domestik, termasuk mahasiswa, menjadi relevan
karena mereka memengaruhi opini publik, legitimasi kebijakan, kohesi sosial,
dan mobilisasi politik. Landasan normatifnya juga kuat, karena Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2002 menempatkan pertahanan negara sebagai segala usaha untuk
mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap
bangsa dari segala bentuk ancaman.
Indonesia
memberikan gambaran empirik yang penting melalui gelombang demonstrasi
mahasiswa dan protes sosial pada 2025. Reuters melaporkan bahwa pada 20
Februari 2025 ribuan mahasiswa turun ke jalan dalam protes “Dark Indonesia” di
kota-kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Medan untuk memprotes pemotongan
anggaran dan kebijakan lain pemerintah. Pada akhir Agustus 2025, protes kembali
meluas; Reuters melaporkan demonstrasi menyebar ke 32 provinsi dan berkembang
menjadi salah satu episode kekerasan politik paling serius dalam beberapa
dekade, sementara Databoks Katadata yang mengutip Kemendagri mencatat 112 aksi
di 33 provinsi sejak 25 Agustus 2025.
Pada
saat yang sama, pelajaran dari Iran memperlihatkan bahwa turbulensi domestik
tidak selalu berdiri terpisah dari konflik eksternal. Dalam konflik modern,
protes, perang narasi, delegitimasi institusi, tekanan ekonomi, dan disrupsi
informasi dapat berkelindan sebagai bagian dari shaping battlespace, yaitu
upaya membentuk medan konflik—termasuk opini publik, legitimasi, persepsi, dan
stabilitas sosial—sebelum atau selama operasi berlangsung. Pertanyaan strategis
bagi Indonesia, karena itu, bukan lagi apakah mahasiswa boleh protes, melainkan
apakah organisasi kemahasiswaan Indonesia telah memiliki resiliensi yang cukup
untuk tetap kritis tanpa menjadi medium shaping pihak yang hendak melemahkan
negara.
Artikel
ini berargumen bahwa persoalan utama gerakan mahasiswa Indonesia bukan
hilangnya kapasitas kritik, melainkan belum tuntasnya transformasi dari protest-centered
mobilization menuju strategic civic resilience. Untuk itu,
artikel ini menyusun logika berpikir: global threat → domestic
vulnerability → 2025 protest wave → historical roots of student activism →
theoretical reframing → national resilience → Banten as node → policy
implications.
2.
Metode
Artikel
ini menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dengan
desain single-case informed conceptual study, yakni studi
konseptual yang bertumpu pada satu kasus utama tetapi diperkaya oleh konteks
yang lebih luas. Kasus utamanya adalah organisasi kemahasiswaan Indonesia
dengan penekanan pada Banten sebagai simpul mobilisasi yang dekat dengan
Jakarta. Sumber data terdiri dari empat kelompok: laporan media internasional
dan nasional mengenai gelombang protes 2025, regulasi resmi negara mengenai
Pancasila dan pertahanan negara, artikel akademik dari perguruan tinggi
Indonesia tentang sejarah dan karakter gerakan mahasiswa, serta tulisan
strategis penulis di situs Kodim 0602/Serang mengenai konflik Iran 2026
sebagai comparative warning case atau kasus pembanding yang
memberi peringatan analitis.
Teknik
analisis yang digunakan adalah interpretive synthesis, yaitu
penyusunan hubungan konseptual dari berbagai sumber untuk membangun argumen
teoretis yang koheren. Artikel ini tidak ditujukan untuk generalisasi
statistik, melainkan untuk membangun model analitis yang dapat diuji lebih
lanjut oleh penelitian empiris berikutnya.
3.
Tinjauan Pustaka
3.1.
Gerakan mahasiswa dalam sejarah politik Indonesia
Literatur
Indonesia menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa telah lama berperan sebagai social
control dan agen perubahan. Pada masa Orde Baru, kebijakan NKK/BKK
diterapkan untuk mendepolitisasi kampus dan membatasi ruang gerak mahasiswa.
Kajian tentang NKK/BKK menunjukkan bahwa kebijakan tersebut berhasil
mempersempit kanal politik mahasiswa secara formal, tetapi juga meninggalkan
memori represi dan resistensi yang diwariskan ke generasi sesudahnya.
Pascareformasi 1998, memori tentang Trisakti, kerusuhan Mei, dan runtuhnya
Soeharto memperkuat pandangan bahwa jalanan merupakan arena politik yang sah
dan efektif bagi mahasiswa. Akibatnya, politik mahasiswa pascareformasi sering
terdefinisi melalui bahasa protes, resistensi, dan kecurigaan terhadap gejala
kembalinya kontrol negara atas ruang sipil.
3.2.
Pancasila, bela negara, dan ketahanan nasional
Secara
normatif, Pancasila menempati kedudukan sentral sebagai dasar negara dan sumber
dari segala sumber hukum. BPIP menegaskan bahwa Pancasila adalah dasar negara
Indonesia dan merupakan sumber dari segala sumber hukum. Ini berarti kebijakan
dan peraturan negara harus sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam waktu
yang sama, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
menetapkan bahwa pertahanan negara merupakan segala usaha untuk mempertahankan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala
bentuk ancaman. Dengan demikian, bela negara dapat dibaca sebagai partisipasi
warga dalam menjaga keberlangsungan negara, bukan hanya sebagai urusan militer
formal.
3.3.
Kesenjangan penelitian
Studi
tentang gerakan mahasiswa di Indonesia umumnya bergerak pada jalur historis,
sosiologis, atau politik-demokratis. Sedikit studi yang menghubungkan
organisasi kemahasiswaan dengan ketahanan nasional dalam
pengertian strategis, terlebih dalam konteks ancaman multidomain dan shaping
operation. Di sinilah artikel ini mengambil posisi: menghubungkan studi gerakan
mahasiswa dengan strategic studies dan menempatkan mahasiswa
sebagai bagian dari critical social infrastructure, yaitu
unsur sosial penting yang menopang daya tahan negara, seperti kelompok
masyarakat strategis, lembaga pendidikan, media, dan komunitas sipil.
4.
Kerangka Teoritis
4.1.
Teori gerakan sosial dan political opportunity structure
Teori
gerakan sosial menjelaskan bahwa mobilisasi lahir dari kombinasi keluhan,
peluang politik, struktur organisasi, jaringan, dan pembingkaian isu. Political
opportunity structure adalah kondisi politik yang membuka atau
menutup peluang bagi suatu gerakan untuk bermobilisasi. Gelombang protes
Indonesia 2025 menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki kapasitas jaringan
dan simbol mobilisasi yang kuat. Ketika isu sosial-ekonomi, persepsi elitisme,
dan krisis legitimasi bertemu, demonstrasi dapat menyebar cepat lintas daerah.
4.2.
Hegemoni dan kontra-hegemoni
Hegemoni adalah dominasi gagasan atau
narasi tertentu sehingga diterima sebagai hal yang wajar oleh masyarakat. Kontra-hegemoni adalah
upaya menantang atau melawan narasi dominan tersebut. Pendekatan ini membantu
menjelaskan kampus sebagai arena perebutan makna. Negara memproduksi narasi
stabilitas, pembangunan, dan legitimasi; kelompok mahasiswa tertentu
memproduksi narasi tanding tentang oligarki, militerisme, korupsi, atau
ketidakadilan sosial. Dalam konteks konflik modern, ruang kontra-hegemoni
domestik juga dapat menjadi sasaran shaping oleh aktor eksternal.
4.3.
Nasionalisme kewargaan dan Pancasila
Nasionalisme
kewargaan (civic
nationalism) adalah nasionalisme yang bertumpu pada komitmen warga terhadap
negara, hukum, dan kepentingan bersama, bukan semata identitas etnis atau
golongan. Dalam konteks Indonesia, konsep ini tidak dapat dipisahkan dari
Pancasila. Dengan menempatkan Pancasila sebagai etika publik, kebebasan politik
tidak dihapus, tetapi dibatasi oleh tanggung jawab moral, penghormatan pada
kemanusiaan, prioritas pada persatuan, hikmat kebijaksanaan, dan orientasi
keadilan sosial. Karena itu, demonstrasi tetap sah dalam demokrasi, tetapi
kualitasnya harus diukur dalam horizon Pancasila.
4.4.
Bela negara sebagai civic duty
Bela
negara sipil adalah
partisipasi warga negara dalam menjaga bangsa melalui kesadaran hukum, disiplin
sosial, dan tanggung jawab kebangsaan, bukan semata aktivitas militer. Dalam
artikel ini, bela negara dibaca sebagai daya tahan konstitusional warga
negara. Mahasiswa tetap dapat kritis, tetapi juga mempunyai tanggung jawab
menjaga kohesi sosial, hukum, dan keberlangsungan negara, terutama dalam
situasi krisis. Tafsir ini sejalan dengan UU Nomor 3 Tahun 2002 yang
menempatkan pertahanan negara sebagai usaha menghadapi segala bentuk ancaman.
4.5.
Demokrasi deliberatif
Demokrasi
deliberatif adalah
demokrasi yang menekankan kualitas alasan publik, dialog, dan orientasi pada
keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai inti politik yang sehat.
Dalam kerangka ini, artikel tidak menolak demonstrasi. Yang dipersoalkan adalah
ketika mobilisasi jatuh ke chaos, vandalisme, atau eskalasi destruktif yang
justru melemahkan ketahanan nasional.
5.
Hasil dan Pembahasan
5.1.
Ancaman global dan pelajaran dari Iran
Dalam
perspektif strategic studies, konflik modern semakin bergerak dari
logika force-on-force contest menuju system-against-system
contest, yakni kontestasi antar-sistem, bukan semata antar-pasukan.
Tulisan-tulisan strategis di situs Kodim 0602/Serang tentang Iran 2026
menekankan bahwa sasaran awal operasi adalah radar, komando-kendali, pertahanan
udara, navigasi, dan konektivitas sistem tempur. Ini berarti yang dihancurkan
terlebih dahulu adalah arsitektur yang membuat negara mampu bekerja sebagai
satu kesatuan.
Pelajaran
yang lebih penting ialah bahwa tekanan eksternal, perang narasi, dan turbulensi
domestik dapat berlangsung simultan. Dalam keadaan seperti itu, protes domestik
tidak selalu dapat dibaca semata sebagai gejala politik internal; ia dapat
menjadi bagian dari shaping battlespace yang memperlemah legitimasi,
memperlebar fragmentasi, dan mengganggu daya tahan negara. Oleh sebab itu,
kelompok strategis domestik, termasuk mahasiswa, harus dipahami sebagai bagian
dari infrastruktur sosial kritis.
5.2.
Kerentanan domestik Indonesia
Gelombang
protes 2025 menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas mobilisasi sosial yang
besar. Reuters melaporkan bahwa pada Februari 2025 ribuan mahasiswa menggelar
protes “Dark Indonesia” di banyak kota menentang pemotongan
anggaran dan kebijakan pemerintah. Pada akhir Agustus 2025, demonstrasi kembali
meluas ke 32 provinsi dan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi stabilitas
politik nasional. Databoks Katadata mencatat 112 aksi di 33 provinsi sejak 25
Agustus 2025.
Dari
perspektif ketahanan nasional, ini menunjukkan dua hal. Pertama, mahasiswa
tetap merupakan aktor mobilisasi politik yang efektif. Kedua, kapasitas
mobilisasi itu dapat berubah menjadi kerentanan bila tidak disertai ketahanan
ideologis, disiplin demokrasi, dan kesadaran hukum. Dengan kata lain, masalah
strategisnya bukan apakah mahasiswa boleh protes, tetapi apakah organisasi
mahasiswa cukup tangguh untuk tetap kritis tanpa menjadi medium shaping pihak
yang ingin melemahkan negara.
5.3.
Akar historis dominannya politik jalanan
Dominannya
demonstrasi sebagai repertoar politik mahasiswa di Indonesia dibentuk oleh
sejarah panjang. NKK/BKK, represi Orde Baru, dan trauma Reformasi 1998
menciptakan memori kolektif bahwa jalanan adalah arena politik yang sah dan
efektif. Karena itu, ketika isu ketidakadilan, elitisme, atau perluasan peran
militer muncul, repertoar protes mudah diaktifkan kembali.
Namun,
sejarah itu juga menjelaskan keterbatasannya. Politik jalanan efektif sebagai
mekanisme tekanan, tetapi tidak otomatis melahirkan kepemimpinan kewargaan
strategis. Di sinilah letak persoalan transformatif yang menjadi fokus artikel
ini.
5.4.
Reframing: dari protest-centered mobilization ke strategic
civic resilience
Reframing
utama artikel ini adalah menempatkan organisasi kemahasiswaan Indonesia sebagai
bagian dari critical social infrastructure dalam ketahanan nasional. Mahasiswa
adalah simpul opini, reservoir elite sipil masa depan, penghubung antara negara
dan masyarakat, serta aktor mobilisasi yang dapat memperkuat atau melemahkan
daya tahan republik.
Karena
itu, organisasi kemahasiswaan perlu bergerak dari politik jalanan yang berpusat
pada ekspresi kemarahan menuju strategic civic resilience,
yaitu daya tahan kewargaan yang membuat mahasiswa tetap kritis, rasional, taat
hukum, dan tidak mudah dieksploitasi dalam situasi krisis nasional. Konsep ini
mencakup empat kapasitas. Pertama, literasi ancaman multidomain,
yaitu kemampuan memahami bahwa ancaman terhadap negara tidak selalu hadir dalam
bentuk invasi terbuka, tetapi juga melalui disinformasi, delegitimasi,
provokasi, dan sabotase sosial. Kedua, etika demokrasi, yaitu
kemampuan tetap kritis tanpa jatuh ke kekerasan destruktif. Ketiga, kesadaran
hukum, yaitu pengakuan bahwa ketertiban umum dan konstitusionalitas adalah
bagian dari daya tahan negara. Keempat, orientasi kebangsaan berbasis
Pancasila, yaitu kemampuan membaca perjuangan politik dalam horizon
persatuan dan keadilan sosial.
5.5.
Banten sebagai simpul strategis
Banten
penting karena kedekatannya dengan Jakarta menjadikannya simpul penghubung
antara kampus daerah dan arena protes ibu kota. Dalam aksi besar di DPR/MPR
pada September 2019, ANTARA melaporkan sekitar 400 mahasiswa dari Banten hadir
dalam aksi gabungan. Data ini tidak cukup untuk menyebut Banten sebagai
penyumbang terbesar, tetapi cukup kuat untuk menempatkannya sebagai salah satu
kantong mobilisasi penting dan konsisten.
Dengan
demikian, Banten dapat dibaca sebagai laboratorium strategis. Bila model
pembinaan kewargaan strategis dapat dibangun di wilayah simpul seperti ini,
maka model itu berpotensi direplikasi secara nasional.
6.
Implikasi Kebijakan
Bila
mahasiswa dipahami sebagai bagian dari ketahanan nasional, maka pembinaan
mereka tidak cukup berhenti pada seminar kebangsaan normatif. Artikel ini
mengusulkan immersive civic resilience program, yaitu
program imersif untuk membentuk daya tahan kewargaan strategis bagi organisasi
kemahasiswaan. Dalam praktik Indonesia, format ini dapat berupa retret
mahasiswa, tetapi substansinya harus berbeda dari retret pejabat.
Program
tersebut setidaknya memuat lima blok utama. Pertama, literasi ancaman
multidomain, termasuk pelajaran dari konflik Iran dan logika shaping
operation. Kedua, Pancasila sebagai etika publik, bukan sekadar
hafalan simbolik. Ketiga, demokrasi deliberatif dan etika aksi,
agar mahasiswa mampu mengartikulasikan kritik secara argumentatif dan beradab.
Keempat, bela negara sipil, yakni kesadaran hukum, ketahanan
informasi, dan tata laku warga negara dalam krisis. Kelima, dialog
lintas organisasi dan lintas institusi, sehingga terbentuk mutual
strategic literacy, yaitu pemahaman strategis bersama antara mahasiswa,
kampus, negara, dan masyarakat sipil.
7.
Kebaruan Penelitian
Kebaruan
artikel ini terletak pada empat hal. Pertama, artikel ini menggeser studi
gerakan mahasiswa dari domain demokrasi domestik ke domain ketahanan
nasional multidomain. Kedua, artikel ini menghubungkan pelajaran dari
konflik Iran dan logika systemic paralysis dengan kebutuhan
Indonesia membangun resiliensi kewargaan di kalangan mahasiswa. Ketiga, artikel
ini menawarkan konsep strategic civic resilience sebagai
tahap lanjut dari kritik mahasiswa, bukan sebagai pengganti kritik. Keempat,
artikel ini menempatkan Banten sebagai node strategis dalam
mobilisasi nasional dan sebagai laboratorium kebijakan pembinaan organisasi
kemahasiswaan.
8.
Kesimpulan
Perang
modern memperlihatkan bahwa negara dapat dilumpuhkan bukan hanya melalui
kekalahan militer, tetapi juga melalui pelemahan sistem nasional: energi,
logistik, komunikasi, legitimasi, dan kohesi sosial. Dalam konteks itu,
ketahanan nasional Indonesia tidak dapat dibangun hanya dengan instrumen
pertahanan formal, tetapi juga dengan kualitas kewargaan kelompok strategis
domestik. Pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa protes domestik dapat menjadi
bagian dari shaping battlespace dalam konflik modern.
Sementara itu, gelombang demonstrasi Indonesia 2025 membuktikan bahwa kapasitas
mobilisasi mahasiswa tetap tinggi.
Karena
itu, yang dibutuhkan bukan depolitisasi mahasiswa, melainkan transformasi
mereka menjadi unsur resiliensi kewargaan strategis. Mahasiswa
tetap harus kritis, tetapi kritik itu harus dilandasi Pancasila, bela negara
sipil, kesadaran hukum, dan etika deliberatif agar tidak jatuh menjadi medium
shaping pihak yang ingin melemahkan negara. Dalam kerangka inilah
organisasi kemahasiswaan Indonesia perlu direframing sebagai
bagian dari ketahanan nasional.
Serang,
21 April 2026
-Oke02-
Daftar
Pustaka
Barung,
I. A. Y. (2023). Gerakan mahasiswa di Indonesia dan tantangannya
terhadap hegemoni negara. Jurnal Pemikiran Sosiologi. Diakses dari https://journal.ugm.ac.id/jps/article/download/82612/pdf
Badan
Pembinaan Ideologi Pancasila. (n.d.). Ideologi Pancasila di era
milenial. Diakses dari https://bpip.go.id/berita/ideologi-pancasila-di-era-milenial
Badan
Pembinaan Ideologi Pancasila. (2024). Arah kebijakan pembinaan ideologi
Pancasila. Diakses dari https://jdih.bpip.go.id/common/dokumen/perbpip4-2024_salinanjdih.pdf
Databoks
Katadata. (2025, 4 September). Peta sebaran demonstrasi di Indonesia
sejak 25 Agustus 2025. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/68b8f9356c6dc/peta-sebaran-demonstrasi-di-indonesia-sejak-25-agustus-2025
Kodim
0602/Serang. (2026). Operation Epic Fury dalam perspektif operational
art: Kronologi, logika kampanye, kekuatan, kelemahan, dan sebab pembalikan
situasi. Diakses dari https://kodim0602.tni-ad.mil.id/berita/operation-epic-fury-dalam-perspektif-operational-art-kronologi-logika-kampanye-kekuatan-kelemahan-dan-sebab-pembalikan-situasi
Kodim
0602/Serang. (2026). Update taktik Iran versus Amerika Serikat/Israel
per 9 Maret 2026. Diakses dari https://kodim0602.tni-ad.mil.id/berita/update-taktik-iran-versus-amerika-serikatisrael-per-9-maret-2026-tinjauan-operational-art-dan-implikasi-doktrinal-sebagai-lessons-learned
Maiwan,
M. (2014). Gerakan mahasiswa di Indonesia dalam bingkai kekuasaan Orde
Baru 1966–1998. Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi. Diakses dari https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jmb/article/download/6504/4682
Pemerintah
Republik Indonesia. (2002). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Diakses dari https://peraturan.bpk.go.id/Download/32692/UU%20Nomor%203%20Tahun%202002.pdf
Reuters.
(2025, 20 Februari). Students lead “Dark Indonesia” protests against
budget cuts. Diakses dari https://www.reuters.com/world/asia-pacific/students-lead-dark-indonesia-protests-against-budget-cuts-2025-02-20/
Reuters.
(2025, 31 Agustus). Deadly Indonesia protests force U-turn on
lawmakers’ perks. Diakses dari https://www.reuters.com/world/asia-pacific/deadly-indonesia-protests-force-u-turn-lawmakers-perks-2025-08-31/
The
Washington Institute. (2020). Iran’s gray zone strategy. Diakses
dari https://www.washingtoninstitute.org/media/4505