EROSI UNIPOLARITAS AMERIKA SERIKAT, KONTESASI MONETER GLOBAL, DAN SKENARIO HORMUZ: TRANSISI TATANAN DUNIA SERTA IMPLIKASINYA BAGI INDONESIA

 

Oleh; Kolonel Arm Oke Kistiyanto, S.A.P., M.S.M.

Abstrak

Artikel ini menganalisis perubahan tatanan internasional dari fase unipolar moment pasca-Perang Dingin menuju konfigurasi pasca-unipolar yang lebih kompetitif, terfragmentasi, dan sarat kontestasi geostrategis. Tulisan ini menggabungkan tiga fokus utama. Pertama, bagaimana dominasi Amerika Serikat mengalami erosi bertahap akibat hegemonic overstretch, delegitimasi intervensi, dan menyempitnya keunggulan relatif atas para penantang. Kedua, siapa aktor yang paling mungkin dominan dalam 5–10 tahun ke depan dan bagaimana sistem moneter global akan bekerja di tengah tekanan dedolarisasi, diversifikasi cadangan, serta perkembangan infrastruktur pembayaran lintas batas. Ketiga, bagaimana skenario hipotetis tetapi strategis—yakni kekalahan strategis Amerika Serikat di Selat Hormuz dan keberhasilan Iran membangun kendali efektif atas jalur itu—dapat mempercepat abrasi petrodollar dan memperkeras transisi ke tatanan pasca-unipolar.

Argumen utama tulisan ini ialah bahwa dunia tidak sedang bergerak menuju pengganti tunggal Amerika Serikat, melainkan menuju tatanan pasca-unipolar dengan karakter: Amerika Serikat tetap dominan secara komposit, Tiongkok menjadi penantang sistemik utama, BRICS dan Global South memperbesar friksi terhadap institusi Barat, dan dolar tetap menjadi jangkar utama tetapi makin kurang eksklusif. Dalam kerangka ini, kekalahan strategis Amerika di Hormuz akan menjadi akseleran, bukan penyebab tunggal. Ia tidak serta-merta meruntuhkan dolar, tetapi dapat mempercepat erosi legitimasi keamanan maritim Barat, mendorong kontrak energi non-dolar, memperluas penggunaan mekanisme pembayaran alternatif, dan memaksa negara-negara Asia—termasuk Indonesia—menata ulang strategi energi, moneter, dan economic defense nasional. Karena itu, inti persoalannya bukan apakah Amerika Serikat masih kuat, melainkan apakah ia masih mampu mempertahankan fungsi hegemonik yang selama ini menopang unipolaritas, khususnya dalam menyediakan security public goods, menjaga sea lines of communication, dan mempertahankan kredibilitas dolar sebagai jangkar utama sistem.

Kata kunci: unipolaritas, pasca-unipolar, Amerika Serikat, Tiongkok, Selat Hormuz, petrodollar, dedolarisasi, keamanan energi, strategi moneter.

I. Pendahuluan

Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 menandai lahirnya sebuah fase historis yang oleh Charles Krauthammer disebut the unipolar moment. Dalam fase ini, Amerika Serikat bukan sekadar negara terkuat, melainkan pusat gravitasi sistem internasional: pemilik jaringan aliansi terluas, penyedia keamanan maritim global, pengendali institusi keuangan utama, serta pemegang mata uang cadangan dominan. Kombinasi superioritas militer, kedalaman pasar keuangan, daya tarik teknologi, dan sentralitas dolar memberi Washington keleluasaan strategis yang pada 1990-an tampak hampir tak tertandingi.

Namun, perkembangan dua dekade terakhir memperlihatkan bahwa dominasi semacam itu tidak bersifat permanen. Amerika Serikat tetap merupakan kekuatan terbesar secara komposit, tetapi kebebasan bertindaknya tidak lagi sama dengan masa puncak unipolaritas. Biaya perang berkepanjangan, pembelahan politik domestik, delegitimasi intervensi, kebangkitan Tiongkok, resiliensi Rusia, serta meningkatnya koordinasi Global South telah mempersempit margin keunggulan Washington. Dengan kata lain, dunia tidak sedang menyaksikan “jatuhnya Amerika” secara mendadak, tetapi sedang bergerak melalui proses erosi bertahap atas fondasi unipolaritas.

Narasi populer sering menyederhanakan persoalan menjadi “Amerika runtuh, Tiongkok naik, dolar akan tumbang.” Formulasi semacam itu kurang disiplin secara akademik. Dominasi global tidak bersifat tunggal, melainkan multidomain. Ia mencakup kapasitas militer, PDB nominal, PDB PPP, kedalaman pasar obligasi, legitimasi institusional, daya tarik mata uang, jaringan aliansi, dan kemampuan mengamankan jalur logistik global. Oleh sebab itu, analisis yang lebih presisi harus memisahkan antara dominasi kompositdominasi per-domain, dan pemicu percepatan transisi.

Di titik inilah Selat Hormuz menjadi penting. Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran sempit, melainkan salah satu center of gravity geokonomi dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati jalur ini. Apabila Amerika Serikat gagal memulihkan kebebasan navigasi di Hormuz dan Iran berhasil membangun kendali efektif atas akses, transit, atau rezim izin di selat tersebut, maka yang terancam bukan hanya pasokan energi, melainkan juga salah satu fungsi hegemonik inti Amerika: kemampuan menyediakan security public goods bagi sistem global. Kekalahan seperti itu tidak harus berbentuk kehancuran armada; cukup berupa kegagalan mencapai strategic end state.

Tulisan ini berangkat dari premis bahwa masa depan tatanan dunia akan ditentukan oleh interaksi tiga vektor besar: pertama, erosi bertahap unipolaritas Amerika Serikat; kedua, kebangkitan Tiongkok dan fragmentasi moneter global; ketiga, kemungkinan guncangan strategis di titik sempit seperti Hormuz yang dapat mempercepat abrasi petrodollar. Dengan memadukan tiga vektor tersebut, artikel ini berupaya membangun satu penilaian komprehensif mengenai ke mana dunia bergerak dan bagaimana Indonesia harus menyiapkan postur kebijakan ekonominya.

II. Rumusan Masalah

Tulisan ini menjawab lima pertanyaan pokok.

Pertama, bagaimana unipolaritas Amerika Serikat terbentuk dan mengapa kini mengalami erosi bertahap.

Kedua, faktor-faktor apa yang menyebabkan dominasi Amerika Serikat tidak lagi bekerja secara bebas seperti pada era 1990-an.

Ketiga, negara mana yang paling mungkin dominan dalam 5–10 tahun ke depan, baik secara komposit maupun per-domain.

Keempat, bagaimana sistem moneter internasional kemungkinan bekerja dalam fase pasca-unipolar.

Kelima, bagaimana skenario kekalahan strategis Amerika Serikat di Selat Hormuz dan penguasaan efektif Iran atas selat tersebut dapat mempercepat erosi petrodollar dan memengaruhi Indonesia.

III. Metode Penelitian

Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan teknik structured strategic reasoning. Sumber bahan berasal dari tiga naskah analitis yang telah disusun sebelumnya, kemudian disintesiskan ke dalam satu kerangka besar yang koheren. Secara metodologis, tulisan ini menempatkan fakta empiris, teori hubungan internasional, logika operasional, dan penalaran geokonomi dalam satu poros analisis.

Kerangka teoritis bertumpu pada konsep unipolar momenthegemonic stabilityimperial overstretch, transisi kekuasaan, balance of powersoft balancinggeoeconomics, serta geopolitik chokepoint. Pendekatan ini dipilih karena persoalan yang dibahas tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika ekonomi atau hanya dengan logika militer. Yang sedang bergerak adalah hubungan antara kekuatan keras, legitimasi, infrastruktur keuangan, dan jalur energi global.

Metode penalaran yang dipakai bukan prediksi spekulatif, melainkan prediksi berbasis lintasan. Artinya, artikel ini tidak menyimpulkan bahwa satu negara “akan menang mutlak”, tetapi menilai kecenderungan distribusi kekuatan, titik tekan, serta accelerating factors yang dapat mengubah tempo transisi.

IV. Kerangka Teori

1. Unipolaritas dan The Unipolar Moment

Konsep the unipolar moment menjelaskan fase ketika satu negara memiliki keunggulan multidomain yang cukup besar untuk tidak hanya mengungguli lawan, tetapi juga membentuk aturan permainan global. Unipolaritas dalam makna ini bukan semata superioritas militer, melainkan kombinasi kapasitas koersif, legitimasi institusional, jaringan aliansi, dominasi teknologi, dan sentralitas finansial. Amerika Serikat pasca-1991 memenuhi syarat tersebut.

2. Hegemonic Stability dan Security Public Goods

Teori stabilitas hegemonik berpandangan bahwa keteraturan internasional lebih mudah dipelihara ketika ada satu kekuatan dominan yang mampu menyediakan public goods bagi sistem, seperti keamanan maritim, stabilitas moneter, akses pasar, dan kebebasan navigasi. Dari sudut pandang ini, kekuatan hegemon tidak hanya diukur dari kemampuan menghancurkan lawan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga sistem tetap terbuka dan dapat diprediksi. Bila satu hegemon gagal menjaga jalur vital seperti Hormuz tetap terbuka, maka yang rusak bukan hanya kredibilitas militernya, melainkan juga legitimasi hegemoniknya.

3. Imperial Overstretch

Paul Kennedy menunjukkan bahwa kekuatan besar cenderung menurun bukan semata-mata karena dikalahkan dalam perang terbuka, melainkan karena cakupan komitmen eksternal mereka tumbuh melampaui fondasi ekonomi, fiskal, dan politik domestik. Konsep ini sangat relevan untuk membaca Amerika Serikat pasca-9/11. Keunggulan militer tetap besar, tetapi perang panjang, mission creep, dan komitmen lintas-teater memperbesar biaya sekaligus memperkecil elastisitas strategis.

4. Teori Transisi Kekuasaan

Robert Gilpin dan A.F.K. Organski menekankan bahwa perubahan tatanan internasional terjadi ketika distribusi kekuatan relatif berubah. Dalam logika ini, hegemon tidak harus runtuh total agar sistem bergeser. Cukup bila jarak keunggulan relatifnya menyempit dan para penantang tumbuh cukup kuat untuk membatasi kebebasan bertindaknya. Dengan demikian, indikator utamanya bukan “siapa paling kuat”, melainkan “apakah selisih kekuatan masih cukup besar untuk mempertahankan dominasi tak terbantah.”

5. Balance of Power, Soft Balancing, dan Counter-Coalition

Dalam perspektif neorealis, negara-negara cenderung menyeimbangkan aktor yang terlalu dominan. Penyeimbangan itu tidak selalu berbentuk aliansi militer formal. Ia bisa hadir dalam bentuk soft balancing: koordinasi moneter, diversifikasi cadangan, perdagangan bilateral non-dolar, kemitraan teknologi, dan forum seperti BRICS. Dalam konteks kontemporer, gejala ini menunjukkan bahwa dunia tidak lagi sepenuhnya patuh pada satu pusat komando.

6. Geoeconomics dan Hierarki Mata Uang

Mata uang internasional tidak berdiri sendiri. Ia menopang dan ditopang oleh ukuran ekonomi, kedalaman pasar obligasi, kredibilitas institusi, likuiditas, dan jaringan penggunaan internasional. Karena itu, dominasi dolar tidak serta-merta dapat diganti hanya dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Justru, sistem yang paling mungkin muncul adalah sistem dolar-sentris yang makin kurang eksklusif: dolar tetap menjadi jangkar, tetapi jalur pembayaran, denominasi kontrak, dan instrumen cadangan menjadi lebih beragam.

7. Chokepoint Geopolitics

Dalam teori chokepoint geopolitics, jalur sempit seperti Selat Hormuz memiliki nilai strategis yang sangat besar karena mampu menghasilkan efek sistemik jauh melebihi ukuran geografisnya. Penguasaan chokepoint tidak harus berarti penutupan total. Cukup dengan kendali atas akses, izin, pungutan, dan risiko transit, aktor pengendali dapat memengaruhi harga, perilaku pasar, diplomasi, bahkan rezim pembayaran.

V. Pembahasan dan Analisis

A. Pembentukan Unipolaritas Amerika Serikat

Unipolaritas Amerika lahir dari kombinasi empat unsur utama. Pertama, runtuhnya Uni Soviet menghapus satu-satunya penyeimbang global yang sebanding. Kedua, ekonomi Amerika tetap sangat besar, inovatif, dan terintegrasi dengan lembaga internasional. Ketiga, jaringan aliansi di Eropa, Asia Timur, dan Timur Tengah memberi Washington kedalaman strategis yang tidak dimiliki penantang lain. Keempat, dolar AS menjadi medium utama perdagangan, pembiayaan, dan cadangan global.

Dengan kombinasi itu, Amerika Serikat bukan sekadar unggul. Ia juga menjadi rule-setter. Inilah fase ketika dominasi komposit Amerika nyaris tak tertandingi.

B. Mengapa Unipolaritas Mengalami Erosi

Masalah utama bukanlah bahwa Amerika Serikat tiba-tiba menjadi lemah, melainkan bahwa biaya mempertahankan dominasi global tumbuh lebih cepat daripada efisiensi strategis yang diperoleh. Perang di Afghanistan, Irak, Libya, dan berbagai teater lain memperlihatkan pola yang konsisten: kemenangan operasional tidak otomatis menghasilkan strategic end state yang stabil. Superioritas udara, keunggulan teknologi, dan dominasi anggaran tidak selalu dapat dikonversi menjadi keteraturan politik jangka panjang.

Akumulasi perang panjang ini menghasilkan tiga efek. Pertama, efek fiskal: biaya perang menggerus ruang strategis domestik. Kedua, efek legitimasi: banyak negara mulai memandang kepemimpinan Amerika sebagai sumber instabilitas, bukan semata jaminan keteraturan. Ketiga, efek pembelajaran bagi lawan: aktor-aktor lain mempelajari cara meniadakan keunggulan AS melalui asymmetric warfarelawfaregrey-zone tactics, rudal, drone, dan penguasaan medan geografis kritis.

C. Pentahapan Erosi Unipolaritas Amerika Serikat

Tahap 1: Konsolidasi Dominasi (1991–2001)

Ini adalah fase zenit. Amerika Serikat berada pada puncak kebebasan strategis. Globalisasi menguat, NATO bertahan, dolar menjadi jangkar sistem, dan penantang besar belum terkonsolidasi.

Tahap 2: Ekspansi Koersif dan Overconfidence (2001–2011)

Pasca-9/11, Washington memperluas komitmen militernya secara besar-besaran. Secara taktis, banyak operasi berhasil. Namun secara strategis, fase ini menanam benih overstretch. Hegemon mulai mengerahkan terlalu banyak tenaga di terlalu banyak front.

Tahap 3: Kejenuhan Strategis dan Delegitimasi (2011–2021)

Perang panjang, state-building yang rapuh, dan hasil politik yang tidak stabil menggerus legitimasi hegemon. Penarikan dari Afghanistan menegaskan bahwa dominasi teknologi tidak menjamin kemenangan politik.

Tahap 4: Munculnya Penyeimbang dan Soft Balancing (2021–2026)

Tiongkok naik sebagai penantang utama di bidang ekonomi riil dan teknologi. Rusia tetap relevan secara strategis-militer. BRICS dan Global South memperkuat forum alternatif. Dunia makin enggan tunduk sepenuhnya pada satu pusat.

Tahap 5: Friksi Moneter dan Institusional (sedang berlangsung)

Dolar tetap dominan, tetapi tidak lagi eksklusif. Diversifikasi cadangan, jalur pembayaran bilateral, dan diskursus dedolarisasi meningkat. Ini belum kolaps, tetapi jelas merupakan abrasi.

Tahap 6: Negosiasi Tatanan Baru atau Escalatory Disorder (2026 ke depan)

Tahap penentu. Bila Amerika beradaptasi, dunia bergerak ke tatanan pasca-unipolar yang lebih dinegosiasikan. Bila tidak, transisi akan makin kacau, kompetitif, dan rawan krisis.

D. Siapa Negara yang Akan Dominan?

Dalam horizon 5–10 tahun ke depan, bila dominasi diukur secara komposit, maka Amerika Serikat masih akan menjadi aktor paling dominan. Ia unggul dalam empat unsur yang sangat menentukan: PDB nominal, belanja militer, jaringan aliansi, dan kedalaman pasar keuangan. Dengan demikian, pusat komando komposit dunia masih berada di Washington.

Namun dominasi ini bukan lagi dominasi unipolar murni. Ia lebih contested, lebih mahal, dan lebih sering diganggu. Sementara itu, Tiongkok adalah penantang utama. Dalam ukuran PPP, Tiongkok telah melampaui Amerika. Dalam ekonomi riil, manufaktur, perdagangan, dan konektivitas Eurasia, bobot Beijing terus meningkat. Meski demikian, Tiongkok belum memiliki keunggulan moneter dan aliansi yang cukup untuk menggantikan Amerika sebagai pengelola tunggal sistem.

Karena itu, penilaian yang paling disiplin ialah sebagai berikut:

Amerika Serikat akan tetap dominan secara komposit, Tiongkok akan menjadi penantang sistemik utama, dan BRICS/Global South akan berfungsi sebagai pengganda friksi terhadap dominasi Barat.

E. Bagaimana Moneter Global Akan Bekerja ke Depan

Sistem moneter global ke depan paling mungkin bekerja dalam format berikut:

Pertama, dolar tetap menjadi jangkar utama. Selisih antara posisi dolar dengan euro maupun renminbi masih terlalu besar untuk ditutup cepat. Kedua, sistem menjadi makin kurang eksklusif. Diversifikasi cadangan, penggunaan mata uang regional, dan kontrak non-dolar akan meningkat. Ketiga, moneter akan menjadi multi-rail, bukan multi-hegemon. Artinya, satu mata uang belum tentu digantikan oleh satu mata uang lain, tetapi sistem pembayaran, settlement, dan infrastruktur lintas batas menjadi lebih berlapis. Keempat, renminbi akan naik secara bertahap, terutama dalam lingkungan perdagangan bilateral dan koridor BRICS, tetapi belum siap menggantikan dolar secara penuh. Kelima, euro akan tetap menjadi jangkar kedua, bukan pengganti tunggal.

Dengan kata lain, masa depan paling realistis adalah dollar-centered but less exclusive. Dolar tetap pusat, tetapi perimeter sistemnya melebar dan muncul koridor-koridor baru di tepiannya.

F. Skenario Akselerasi: Jika AS Kalah Secara Strategis di Hormuz

Dalam konteks ini, “AS kalah” tidak harus berarti armada hancur total. Kekalahan strategis lebih realistis dimaknai sebagai kegagalan mencapai strategic end state: Hormuz tidak kembali normal, kapal harus berkoordinasi dengan otoritas Iran, rezim transit Iran berjalan, dan negara-negara pembeli energi mulai menyesuaikan diri dengan aturan baru tersebut.

Jika itu terjadi, Iran memperoleh empat keuntungan:

Pertama, keuntungan koersif. Iran bisa menekan lawan tanpa harus menutup selat total. Kedua, keuntungan ekonomi. Transit fee, penundaan, dan pengaturan jalur memberi sumber leverage. Ketiga, keuntungan diplomatik. Iran dapat membedakan kapal musuh, netral, dan bersahabat, sehingga memecah koalisi lawan. Keempat, keuntungan moneter. Denominasi pembayaran non-dolar memperoleh ruang praktik yang lebih nyata.

Dalam skenario ini, yang rusak bukan hanya aliran minyak, tetapi juga salah satu fondasi petrodollar: keyakinan bahwa sistem energi global berada di bawah payung keamanan maritim Barat.

G. Dampak Hormuz terhadap Petrodollar dan Tatanan Dunia

Kemenangan Iran di Hormuz tidak akan otomatis meruntuhkan dolar, tetapi akan mempercepat erosi petrodollar melalui empat saluran.

Pertama, saluran reputasi. Bila Washington gagal menjaga jalur energi terpenting dunia tetap terbuka, maka korelasi antara dominasi dolar dan keamanan global mulai dipertanyakan.

Kedua, saluran transaksi. Jika sebagian perdagangan energi berpindah ke yuan atau mekanisme non-dolar lain, maka eksklusivitas dolar menurun.

Ketiga, saluran cadangan. Negara-negara akan lebih terdorong menyebar eksposur cadangan dan membangun settlement mechanisms alternatif.

Keempat, saluran geopolitik. Kemenangan Iran akan dibaca sebagai bukti bahwa chokepoint, rudal, drone, lawfare, dan dukungan mitra besar dapat menetralkan keunggulan hegemon maritim-finansial Barat.

Dalam bahasa operasi, Hormuz dapat menjadi force multiplier bagi transisi pasca-unipolar. Ia bukan penyebab utama, tetapi dapat menjadi akseleran yang memperkeras tempo perubahan.

H. Model Prediksi Terpadu 2026–2035

Fase I: 2026–2028 — Dollar-Centered Fragmentation

Dolar masih dominan. Amerika masih unggul komposit. Namun, penggunaan jalur pembayaran alternatif meningkat. BRICS memperkuat koordinasi. Risiko energi global meninggi.

Fase II: 2028–2031 — Competitive Duality

Amerika dan Tiongkok makin menonjol sebagai dua kutub utama ekonomi-strategis. Amerika tetap unggul moneter dan militer. Tiongkok memperbesar pengaruh ekonomi riil dan perdagangan. Sistem menjadi bipolar longgar dengan banyak pemain menengah.

Fase III: 2031–2035 — Post-Unipolar Monetary Layering

Moneter global makin berlapis. Dolar tetap pusat, euro bertahan sebagai penyangga kedua, renminbi menguat di koridor tertentu, dan infrastruktur pembayaran digital lintas batas makin menentukan.

Fase IV: Titik Penentu

Jika Amerika mampu mempertahankan kepercayaan institusi, pasar keuangan, dan kepemimpinan sekutu, ia tetap menjadi pusat dominan. Jika tidak, abrasi dolar dan fragmentasi institusional akan berjalan lebih cepat, terutama bila dipicu krisis seperti Hormuz.

VI. Implikasi Strategis bagi Indonesia

Bagi Indonesia, perubahan ini memiliki implikasi langsung pada tiga front: energi, moneter, dan pertahanan ekonomi.

Pertama, front energi. Ketergantungan pada impor dan volatilitas harga global membuat Indonesia rentan terhadap gangguan Hormuz. Harga minyak, ongkos logistik, dan premi asuransi tanker dapat segera menekan APBN.

Kedua, front moneter. Rupiah akan menghadapi tekanan melalui inflasi impor, pemburukan neraca energi, dan potensi arus modal keluar. Dalam kondisi seperti itu, cadangan devisa harus diperlakukan sebagai amunisi strategis.

Ketiga, front strategi nasional. Indonesia tidak dapat semata menggantungkan diri pada satu sistem. Selama dolar masih dominan, keterhubungan dengan sistem dolar tetap harus dijaga. Namun, pada saat yang sama, Indonesia harus memperluas currency arrangements, memperkuat diversifikasi pasokan energi, mengembangkan hedging mechanisms, dan menempatkan kebijakan moneter sebagai bagian dari economic defense nasional.

Dengan demikian, pelajaran utamanya adalah:

ketahanan moneter tidak bisa dipisahkan dari ketahanan energi dan keamanan maritim.

Stabilitas rupiah pada masa depan akan makin ditentukan bukan hanya oleh suku bunga dan intervensi bank sentral, tetapi juga oleh jalur pelayaran, risiko geopolitik, dan konfigurasi kekuatan laut global.

VII. Kesimpulan

Dunia sedang bergerak keluar dari unipolaritas penuh, tetapi belum memasuki multipolaritas matang. Amerika Serikat masih merupakan aktor paling dominan secara komposit, namun dominasi itu tidak lagi bekerja secara bebas sebagaimana pada 1990-an. Erosi unipolaritas terjadi melalui enam tahap: konsolidasi dominasi, ekspansi koersif, kejenuhan strategis, pembentukan penyeimbang, friksi moneter dan institusional, serta fase negosiasi tatanan baru.

Dalam horizon 5–10 tahun ke depan, tidak ada negara yang akan menggantikan Amerika Serikat sepenuhnya sebagai pengendali tunggal sistem. Yang paling mungkin terjadi adalah tatanan pasca-unipolar: Amerika tetap pemimpin komposit, Tiongkok penantang utama, BRICS dan Global South memperbesar friksi, dan moneter global tetap dolar-sentris tetapi makin kurang eksklusif.

Skenario kekalahan strategis Amerika Serikat di Selat Hormuz akan menjadi akseleran penting dalam transisi ini. Bukan karena ia langsung merobohkan dolar, tetapi karena ia dapat merusak salah satu fondasi fungsional hegemoni Amerika: kemampuan menyediakan keamanan maritim pada jalur energi global. Jika itu terjadi, petrodollar tidak akan kolaps instan, tetapi akan mengalami abrasi percepatan melalui kerusakan reputasi, kontrak energi non-dolar, diversifikasi cadangan, dan perluasan infrastruktur pembayaran alternatif.

Bagi Indonesia, medan yang akan dihadapi bukan lagi medan satu hegemon tunggal, melainkan ruang tempur ekonomi multipusat. Karena itu, strategi nasional yang paling rasional adalah hedging berlapis: tetap terhubung dengan sistem dolar yang masih dominan, sambil memperluas opsi pembayaran, memperkuat ketahanan energi, menjaga cadangan devisa, dan menyiapkan pertahanan ekonomi nasional menghadapi guncangan geopolitik. Dalam terminologi operasi, inilah bentuk defense in depth di ranah moneter dan energi terhadap dunia yang semakin tidak pasti.

Serang, 1 April 2026

-Oke02-

Daftar Pustaka

AP News. “Iran starts to formalize its chokehold on the Strait of Hormuz with a ‘toll booth’ regime.” 2026.

Brown University. Costs of War Project.

BRICS Brasil. About the BRICSBRICS Data; dokumen presidensi BRICS Brasil.

Foreign Affairs. Charles Krauthammer, The Unipolar Moment.

Foreign Affairs. Making Multipolarity WorkThe Multipolar DelusionThe Multipolar Mirage.

IEA. “New IEA report highlights options to ease oil price pressures on consumers in response to Middle East supply disruptions.” 2026.

IMF. Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER).

IMF. World Economic Outlook DataMapper.

IMF. Digital Money, Cross-Border Payments, International Reserves, and the Global Financial Safety Net.

Reuters. “Iran tells UN: ‘non-hostile’ ships can transit Strait of Hormuz.” 24 Maret 2026.

Reuters. “Iran war shock drives steepest hike yet in oil price forecasts.” 31 Maret 2026.

Reuters. “OPEC oil output plunges in March as war forces export cuts.” 31 Maret 2026.

Reuters. “European, African oil market gets tighter as Asia buys more.” 30 Maret 2026.

Reuters. “China, Pakistan call for Iran peace talks, normal navigation in Strait of Hormuz.” 31 Maret 2026.

SIPRI. Trends in World Military Expenditure, 2024.

Wall Street Journal. “Iranian Parliament Approves Tolls for Strait of Hormuz.” 30 Maret 2026.

Wall Street Journal. “Rubio: Strait of Hormuz to Reopen ‘One Way or Another’.” 31 Maret 2026.

World Bank. United States | Data.

World Bank. China | Data.

World Bank. Global Economic Prospects.

BIS. Cross-border payment technologies: innovations and challenges.


Swipe Right or Left 1th Richbean

AYO LAWAN COVID 19

INGAT 3M YA ..! MEMAKAI MASKER, MENCUCI TANGAN DAN MENJAGA JARAK